
Pengabdian Masyarakat Pengembangan Interior Creative Space Setrasari dengan Pendekatan Sustainability
Di sebuah bangunan co-working space Setrasari, Bandung, tim pengabdian kepada Masyarakat (gambar 1) Telkom University menjalankan sebuah misi untuk mengubah ruang yang “belum siap pakai” menjadi ruang kreatif digital yang layak menfasilitasi kegiatan sebuah organisasi non-pemerintah. Mitra dalam kegiatan ini adalah Nusa Daya Sesama, yayasan yang bergerak memberdayakan desa dan komunitas lokal di Indonesia melalui pendekatan desain kolaboratif berbasis Sustainable Development Goals (SDGs). Kegiatan pengabdian Masyarakat ini di jalankan selama kurang lebih 3 bulan dimulai dari tanggal 14 April 2026 sampai dengan 3 Juli 2026, meliputi pengurusan administrasi, FDGs dengan Mitra, survey dan analisis, studi literatur dan referensi, observasi dan konsultasi.

Bagi Nusa Daya Sesama, ruang bukan sekadar tempat duduk dan bekerja. Ruang ini dirancang menjadi pusat edukasi, kolaborasi, dan transfer pengetahuan bagi komunitas dan desa binaan mereka, sekaligus membuka peluang kemitraan dengan yayasan, universitas, dan lembaga dari dalam maupun luar negeri.
Sebelumnya, bangunan ini berfungsi sebagai co-working space biasa untuk kantor-kantor penyewa yang belum mencerminkan ruang kreatif yang terbuka, kolaboratif, dan mencerminkan nilai keberlanjutan yang diusung Nusa Daya Sesama. Fasilitas ruang digital masih terbatas, tata ruang belum optimal, dan prinsip desain berkelanjutan belum diterapkan sama sekali (gambar 2 dan gambar 3).

Sebuah creative space idealnya dapat mengintegrasikan perilaku pengguna, material berkelanjutan, dan tata ruang terbuka untuk meningkatkan kolaborasi. Oleh karena itu dibutuhkan perancangan ulang total agar ruang ini dapat memfasilitasi beragam mitra dan target komunitas, dengan fokus pengabdian kali ini pada ruang kreatif digital.
Konsep “Second Life” (gambar 4) diusung dengan merumuskan dua solusi utama. Pertama, mengadopsi pendekatan keberlanjutan sebagai konsep inti dengan memilih material eco green, kayu reklamasi, dan material daur ulang yang sekaligus menekan biaya pembangunan dan meminimalkan jejak emisi karbon. Pendekatan ini dipilih karena selaras dengan visi-misi Nusa Daya Sesama sendiri; merawat dan mengembangkan komunitas lokal dan desa di Indonesia.
Kedua, interior dirancang dalam bentuk modular dan kompak agar mampu menampung paling sedikit 16 peserta kelas, dengan pencahayaan 300–350 lux sesuai standar nasional, material yang netral, mudah dibersihkan, dan tahan lama, serta sistem elektrikal yang terintegrasi dengan interior demi keamanan penggunanya.

Dalam proses perancangan, terdapat enam tahap untuk menghasilkan desain yang efektif dan tepat:
- Survei lokasi dan wawancara dengan pihak Nusa Daya Sesama di Setrasari, untuk menyusun proposal kegiatan. (gambar 5)
- Pengukuran ulang ruang dan identifikasi masalah, menghasilkan solusi desain awal dalam bentuk 3D.
- Penyusunan moodboard konsep dan pengumpulan material daur ulang serta eco design — termasuk kayu reklamasi, furnitur bekas, dan produk UMKM lokal Bandung.
- Pembuatan gambar kerja interior dan perspektif 3D, dipresentasikan kepada mitra untuk memperoleh umpan balik. (gambar 6)
- Revisi desain berdasarkan masukan mitra, hingga hasil akhir diserahterimakan.
- Penyusunan laporan dan evaluasi kegiatan secara menyeluruh.

Sebagian besar proses eksplorasi desain dan sesi umpan balik dengan Nusa Daya Sesama dilakukan secara daring, tempat tim dan mitra bersama-sama menyimulasikan variasi furnitur untuk ruang komunal dan ruang digital (gambar 7).

Lantai tiga yang difungsikan sebagai ruang digital, tersedia meja-kursi modular, ruang hening, ruang kerja privat, pantry, lemari, lemari sepatu, hingga area couch (gambar 8). Ruang komunal dan ruang digital sama-sama menonjolkan furnitur modular dan material berkelanjutan, dipadukan dengan palet warna earth tone yang menenangkan — sebuah pilihan desain yang juga ditujukan untuk mendukung kenyamanan pengguna berkebutuhan khusus, seperti individu dengan autisme atau hipersensitivitas.

Pada ruang komunal di lantai 2, eksplorasi bentuk dan material meja serta kursi dari bahan daur ulang dirancang untuk mengakomodasi kelompok pengunjung berisi dua maupun empat orang, sekaligus menekan biaya pembuatan — berkisar antara Rp350.000 hingga Rp850.000 per unit, angka yang tergolong terjangkau bagi Nusa Daya Sesama (Gambar 9).

Hasil kegiatan pengabdian ini berupa desain interior aplikatif yang siap diimplementasikan, dengan mempertimbangkan kenyamanan, efisiensi, dan keberlanjutan sekaligus. Lebih dari sekadar perancangan ruang, kegiatan ini adalah kontribusi nyata terhadap visi Nusa Daya Sesama dalam membangun pertumbuhan ekonomi, mendorong konservasi lingkungan, dan meningkatkan kesejahteraan sosial komunitas serta desa binaan mereka. Perancangan menggunakan material daur ulang dan desain modular ini dapat diaplikasikan pada tipologi serupa, menjadikan Creative Space Setrasari bukan hanya ruang kerja baru bagi satu organisasi, tetapi juga contoh kecil bagaimana desain interior dapat menjadi jembatan antara keberlanjutan lingkungan dan pemberdayaan masyarakat.
Recent Comments