
PERANCANGAN KERAN & INTEGRASI TEKNOLOGI PADA AREA WUDHU DAARUT TAUHIID
Wudhu Hemat Air di Daarut Tauhiid: Teknologi yang Taat Syariat
Di tengah meningkatnya kekhawatiran akan krisis air bersih, satu aktivitas harian umat Muslim sering luput dari perhatian, yaitu wudhu. Padahal, di negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia seperti Indonesia, penggunaan air untuk bersuci terjadi jutaan kali setiap hari, terutama di masjid, pesantren, dan institusi keagamaan. Jika tidak dikelola dengan bijak, praktik ini berpotensi menjadi sumber pemborosan air yang signifikan.
Ironisnya, pemborosan air saat wudhu justru bertentangan dengan nilai Islam itu sendiri. Rasulullah SAW telah mencontohkan wudhu dengan air yang sangat terbatas, bahkan ketika berada di dekat sumber air yang melimpah. Artinya, persoalan wudhu hemat air bukan sekedar isu teknis, melainkan juga persoalan etika dan konsistensi nilai.
Berbagai studi menunjukkan bahwa tingginya konsumsi air wudhu bukan semata-mata disebabkan oleh perilaku jamaah. Faktor desain fasilitas, khususnya keran wudhu, memegang peran besar. Keran konvensional umumnya membiarkan air mengalir terus-menerus tanpa kontrol debit yang jelas, kurang ergonomis, dan sering kali tidak inklusif bagi kelompok tertentu, seperti lansia atau penyandang disabilitas. Akibatnya, air terbuang bahkan sebelum digunakan secara optimal.
Persoalan inilah yang menjadi perhatian Yayasan Daarut Tauhiid (DT) di Bandung. Sebagai institusi yang sejak lama mengusung konsep eco green, DT memandang kepedulian lingkungan bukan sebagai agenda tambahan, melainkan sebagai bagian dari praktif ibadah sehari-hari. Area wudhu Masjid Daarut Tauhid, dengan jumlah jamaahnya yang sangat tinggi, kemudian dijakdikan sebagai lokasi pilihan unduk kegiatan kolaborasi inovatif antara nilai syariat Islam, desain, dan teknologi.
Melalui program pengabdian masyarakat, Telkom University bekerja sama dengan startup Karla Bionics untuk merancang solusi wudhu hemat air yang tidak hanya efisien, tetapi juga taat syariat dan realistis untuk diterapkan di masjid. Karla Bionics sebelumnya telah mengembangkan Lubna Watertap, sebuah keran hemat air yang dalam uji coba awal mampu mengurangi penggunaan air hingga sekitar 56 persen. Namun, prototipe tersebut masih perlu dikembangkan lebih jauh.
Evaluasi lapangan di Masjid Daarut Tauhiid mengungkap masalah yang kerap terjadi. Mulai dari keran yang tidak ramah pengguna, sistem kontrol air yang masih primitive, serta bagian bawah keran yang cepat rusak dan harus diganti secara keseluruhan. Biaya perawatan pun membengkak, sementara pemborosan air terus berlangsung.
Berangkat dari kondisi tersebut, tim Telkom University mengusung pendekatan desain yang tidak hanya menawarkan teknologi canggih, tetapi desain keran yang disusun berdasarkan pengamatan perilaku jamaah, pola gerak tubuh saat wudhu, serta pengamatan perilaku jamaah. Hasilnya adalah tiga alternatif desain keran hemat air yang masing-masing menawarkan keunggulan berbeda.
Desain pertama, Uplift Eco Water Tap, memodifikasi keran eksisting dengan sistem uplift (tekan dari bawah) yang membuat air mengalir hanya dalam durasi singkat sebelum berhenti otomatis, tanpa memerlukan listrik. Teknik menekan dari bawah akan mempermudah proses berwudhu, yang disesuaikan dengan gerakan berwudhu (mengambil air dari bawah dan mengusapkan ke anggota tubuh).
Desain kedua, Extendable Eco Water Tap, mengintegrasikan sensor dan selang fleksibel untuk kontrol air yang lebih presisi, meski dinilai masih terlalu kompleks dan mahal untuk implementasi awal.
Desain ketiga memodifikasi Lubna Watertap agar tampil lebih familiar, menyerupai keran dispenser yang sudah dikenal luas, dengan pengaturan debit air yang lebih merata dan hemat.
Ketiga desain ini kemudian diwujudkan dalam mockup skala penuh menggunakan teknologi cetak 3D dan dipresentasikan secara terbuka dalam sesi pemaparan program pengabdian masyarakat Telkom University. Forum ini dihadiri oleh pimpinan Yayasan Daarut Tauhiid, pengurus masjid, serta pihak Karla Bionics. Sesi tersebut menjadi ruang penting untuk pengambilan umpan balik langsung dari para pemangku kepentingan.
Masukan yang muncul sangat kontekstual dan membumi. Pihak Daarut Tauhiid menekankan pentingnya desain yang sederhana, intuitif, dan memiliki komponen modular, khususnya pada bagian bawah keran, agar perawatan lebih efisien dan tidak membebani anggaran masjid. Jamaah yang datang dari berbagai latar belakang juga menuntut desain yang mudah dipahami tanpa perlu instruksi khusus. Sementara itu, Karla Bionics menyoroti perlunya uji langsung pada pengguna untuk memastikan kenyamanan tetap terjaga.
Sebagai tindak lanjut dari pengembangan keran hemat air, kegiatan ini juga merekomendasikan penerapan Smart Wudhu (Ablution) Space Ecosystem sebagai arah pengembangan jangka panjang. Melalui intervensi desain water-saving taps, penataan posisi dan ketinggian keran berbasis ergonomi, serta pemanfaatan gesture atau proximity sensor untuk mengontrol aliran air, penggunaan air dapat ditekan tanpa mengganggu kekhusyukan ibadah. Integrasi sistem pintar memungkinkan pemantauan konsumsi air secara real-time, sementara simulasi lingkungan (ecotect simulation) digunakan untuk mengoptimalkan tata letak ruang, pencahayaan, dan sirkulasi udara. Menariknya, konsep smart dalam ekosistem ini tidak selalu identik dengan teknologi mahal. Sistem dirancang agar bersifat modular, bertahap, dan kontekstual. Dengan pendekatan ini, Smart Wudhu Ecosystem diharapkan menjadi solusi yang budget friendly, berbiaya perawatan rendah, dan menghasilkan water fixture yang tahan lama. Secara prinsip, inisiatif ini sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya SDG 6 (air bersih dan sanitasi), SDG 9 (inovasi dan infrastruktur), dan SDG 11 (kota dan komunitas berkelanjutan), serta mendukung standar Green Building Council Indonesia (GBCI), terutama pada aspek Water Conservation (WAC) dan Energy Efficiency and Conservation (EEC).
Respons jamaah terhadap program ini pun positif. Berdasarkan kuesioner, seluruh responden menyatakan bahwa program ini sesuai dengan kebutuhan mereka dan layak dilanjutkan. Lebih dari sekadar inovasi teknis, program ini membuka ruang refleksi bahwa keberlanjutan lingkungan dapat dimulai dari praktik ibadah paling dasar.
Dari Bandung, inisiatif wudhu hemat air di Daarut Tauhiid memberi pesan penting bagi publik: kepedulian terhadap lingkungan tidak selalu menuntut perubahan besar dan mahal. Ia bisa dimulai dari hal sederhana. Mulai dari cara kita membuka keran, dan cara kita memaknai ibadah. Ketika spiritualitas dan tanggung jawab ekologis berjalan beriringan, maka wudhu bukan hanya menyucikan diri, tetapi juga menjaga bumi.
| Ketua Tim : | Athifa Sri Ismiranti, S.Ds., M.Arch. | (NIP: 22940036) |
| Anggota Dosen : | Akhmadi, S.T., M.Ds. | (NIP: 22930022) |
| Raisya Rahmaniar Hidayat, S.Sn, M.Arch. | (NIP: 25950002) | |
| Anggota Mahasiswa : | Ahmad Khairul Fatah Musyaffa | (NIM: 1603223078) |
| Yaasmin Amanda | (NIM: 1603223094) | |
| Anandira Putra Darmawan | (NIM: 1603223197) |
Search
Recent Posts
- PERANCANGAN KERAN & INTEGRASI TEKNOLOGI PADA AREA WUDHU DAARUT TAUHIID
- FURNITURE MULTIFUNGSI: PERANCANGAN FURNITURE FASILITAS AJAR ANAK USIA DINI DENGAN PENDEKATAN PARTISIPATORI PADA YAYASAN MIFTAHUL ‘ULUUM
- FURNITURE SIMPAN SEBAGAI SOLUSI PENINGKATAN PELAYANAN ADMINISTRASI POSYANDU BUNCIS, ARCAMANIK, BANDUNG
- Pelatihan Seni Rupa di Masjid Al Hasanah – Cisaranten Kulon
- Inovasi Wall Treatment Multifungsi untuk Monitoring Tumbuh Kembang Anak di Pos PAUD Fathonah Bandung
Archives
- Januari 2026
- Desember 2025
- November 2025
- Oktober 2025
- September 2025
- Agustus 2025
- Juli 2025
- Juni 2025
- Januari 2025
- Desember 2024
- Juli 2024
- Juni 2024
- Februari 2024
- Januari 2024
- Agustus 2023
- Juli 2023
- Januari 2023
- Juli 2022
- Agustus 2020
- Oktober 2019
- Mei 2019
- Maret 2019
- Februari 2019
- Januari 2019
- Maret 2018
- April 2017
- Desember 2016
- Juli 2015
- April 2015
- Maret 2015
- Februari 2015
- Januari 2015
- Desember 2014
- Oktober 2013
Recent Comments