RENCANA TATA BANGUNAN DAN LINGKUNGAN (RTBL) UNTUK PENGEMBANGAN KAWASAN POTENSI PARIWISATA
Tim Dosen: Ahmad Nur Sheha Gunawan, S.T.,M.T (NIP: 20840001) Niken Laksitarini, S.Ds.,M.Ds (NIP: 24960012) Mohd Ridho Kurniawan, S.Ds.,M.Ds (NIP: 24980005) Tim Mahasiswa: Azrene Naila Azizah (NIM: 1603223094) Hauna Abghiya Salamah (NIM: 1603223078) Kawasan Wisata Gunung Puntang di Desa Campakamulya, Kabupaten Bandung, bukan sekadar tempat berkemah dengan udara sejuk. Di balik rimbunnya pohon pinus, tersimpan jejak sejarah komunikasi dunia melalui Stasiun Radio Malabar dan aroma khas Kopi Arabika Puntang yang telah mendunia. Namun, potensi besar ini ibarat permata yang belum diasah tajam karena penataan kawasan yang belum terpadu. Melihat hal tersebut, tim dosen dari Telkom University yang diketuai oleh Ahmad Nur Sheha Gunawan bersama Niken Laksitarini dan Mohd Ridho Kurniawan, melakukan langkah nyata melalui kegiatan pengabdian masyarakat dengan menyusun sebuah panduan penataan yang disebut Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan (RTBL) untuk memaksimalkan objek wisata Gunung Puntang menjadi destinasi pariwisata berkelanjutan bernama Eco-Heritage Edupark. Gunung Puntang memiliki keunikan yang jarang dimiliki tempat wisata lain. Di sini terdapat situs sejarah besar Stasiun Radio Malabar yang dulu merupakan jembatan komunikasi Indonesia ke dunia, ada konservasi Owa Jawa, dan ada kopi terbaik. Namun Masalahnya, penataannya masih terpencar-pencar dan fasilitasnya belum terstandar. Melalui diskusi mendalam dengan warga Desa Campakamulya dan para pelaku wisata serta Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jawa Barat, tim Telkom University menentukan rekomendasi lima zona utama untuk keberlanjutan pariwisata Puntang. Zona Edukasi & Sejarah: Fokus pada revitalisasi reruntuhan Stasiun Malabar sebagai museum terbuka. Zona Konservasi & Petualangan: Area khusus untuk trekking dan perlindungan alam. Zona Agrowisata: Pusat edukasi budidaya Kopi Puntang. Zona Komersial: Penataan warung dan UMKM agar lebih estetis dan rapi. Zona Permukiman: Pengembangan homestay milik warga dengan gaya arsitektur lokal. Selain soal zonasi, artikel penelitian yang dihasilkan tim ini menyoroti perbaikan infrastruktur krusial dalam mendukung kenyamanan berwisata. Salah satunya adalah rekomendasi penyusunan identitas visual baik berupa logo warna serta langgam bangunan yang diseragamkan sehingga objek wisata menjadi terintegrasi sehingga wisata Puntang memiliki keunikan tersendiri dibanding objek wisata alam lainnya. Tim juga mengusulkan adanya sistem shuttle wisata untuk mengurangi polusi dan kemacetan dari kendaraan pribadi di area inti. Kegiatan ini disambut baik oleh masyarakat setempat. Namun, produk perencanaan (RTBL) ini tidak akan berarti tanpa dukungan kebijakan pemerintah. Tim berharap hasil kajian ini bisa diadopsi menjadi Peraturan Bupati sehingga memiliki kekuatan hukum untuk mengatur pembangunan di Gunung Puntang. Dengan penataan kawasan yang matang, pariwisata Puntang diharapkan tidak hanya menarik lebih banyak wisatawan lokal maupun mancanegara, tetapi juga mampu melindungi warisan sejarah dan meningkatkan kesejahteraan warga Desa Campakamulya melalui wisata yang lebih profesional dan berkelanjutan.
PERANCANGAN RTH DENGAN FASILITAS OLAHRAGA DAN TAMAN HIDROPONIK MODULAR
Deskripsi kegiatan 1. jenis pelaksanaan kegiatan: Pengabdian Masyarakat 2. pihak-pihak yang terlibat : Dosen: REZA HAMBALI WILMAN ABDULHADI (NIP: 20830003) IRWANA ZULFIA BUDIONO (NIP: 25910025) AKHMADI (NIP: 22930022) Mahasiswa: DHEA APRILIANI (NIM: 106032300156) M RAHARDIAN ALGIFFARI (NIM: 106032300109) MUH RAYHAN HAMZAH (NIM: 106032300085) 3. mitra / masyarakat: Warga Perumahan Pesona Ciganitri Blok C RT.10, RW.12 4. lokasi pelaksanaan kegiatan: Komplek Pesona Ciganitri Blok C, RT.10, RW.12 5. durasi pelaksanaan kegiatan: 3 bulan 6. tujuan pelaksanaan kegiatan: aktivasi lahan terbuka hijau warga 7. rangkaian proses pelaksanaan kegiatan. Komplek Perumahan Pesona Ciganitri, merupakan salahsatu Kawasan hunian yang terdapat di kawasan Ciganitri Bojongsoang, Kabupaten Bandung. Komplek perumahan tersebut telah memiliki ruang terbuka hijau (RTH) berupa taman yang tersebar di beberapa area komplek. Seiring dengan perkembangan kebutuhan warga, fungsi taman tersebut dirasakan kurang optimal dinilai dari segi sosial dalam rangka pemenuhan ruang untuk interaksi antar warga. Aktivitas sosial selama ini banyak berlangsung di area seperti masjid dan pos satpam. Oleh karena itu diperlukan pengembangan RTH yang tidak hanya memiliki fungsi ekologis, tetapi juga dapat mendukung interaksi sosial. Kegiatan pengabdian masyarakat ini memiliki fokus untuk memberikan solusi berupa perancangan ulang lahan area tidak produktif pada salah satu RTH komplek pesona Ciganitri yang terletak di Blok C, yang merupakan bagian dari RT.10. Perencanaan ini ditujukan untuk menjadi area multtifungsi dengan penyediaan fasilitas olahraga dan juga taman hidroponik. Desain yang akan diusulkan menggunakan pendekatan arsitektur lansekap modular dengan kelebihan untuk dapat dibongkar pasang, agar dapat mudah untuk dipindahkan dan di modifikasi sesuai kebutuhan. Fasilitas taman hidroponik merupakan tambahan sebagai sarana edukatif dan inovatif untuk peningkatan kesadaran warga terhadap gaya hidup sehat di perkotaan. Hasil perancangan diharapkan dapat mampu mengoptimalkan RTH yang ada sehingga fungsi ekologis, sosial dan edukasi dapat membuat hunian menjadi lebih asri, lebih sehat, dan lebih produktif serta memberikan dampak keberlanjutan bagi warga Pesona Cigantiri.
PERANCANGAN FASILITAS JENDELA UNTUK PENCAHAYAAN DAN PENGHAWAAN ALAMI DI RUANG KELAS RA NURUL ILMI
RA Nurul Ilmi merupakan salah satu dari 21 RA/ TK di area Cimahi Utara, dimana fungsi utamanya adalah memberikan pendidikan di usia dini. RA Nurul Ilmi Berdiri dari tahun 2006 dan rata rata setiap tahunnya memiliki sekitar 40 – 50 peserta didik dari usia 4 s/d 6 tahun. Semua aktivitas di RA memerlukan suatu ruang dan tempat sesuai fungsi kegunaan dari masing-masing aktivitasnya, seperti penyelenggaraan pendidikan dini untuk anak-anak yang berupa kelas dari 3 tingkatan kelas bermain, TK A dan TK B, Kebutuhan ruangan untuk sekolah TK biasanya mencakup beberapa area penting. Berikut adalah beberapa contoh kebutuhan ruangan yang umum untuk TK: Ruang Kelas adalah tempat paling utama pada RA Nurul Ilmi, dimana pada ruangan ini kegiatan paling banyak dilakukan. Ruangan dengan pencahayaan yang baik dan sirkulasi udara yang baik menjadi penting. Ruangan kelas pada RA Nurul Ilmi berukuran 3x 4 Meter, dan dipakai untuk 20 siswa pada setiap sesi pengajaran. Sirkulasi udara dan pencahayaan yang ada sudah cukup, tetapi dengan penggunaan material penutup jendela yang seadanya berdampak pada kebersihan dan higinitas pada ruangan dan fasilitas di dalamnya. Jendela tanpa penutup banyak menyebabkan serangga dan binatang pengerat dengan mudah masuk ketika ruangan sedang tidak dipakai. Selain hal diatas, penumpukan alat bantu ajar di meja guru juga menjadi permasalahan. pada area guru tidak terdapat tempat penyimpanan yang cukup baik dan sesuai dengan kebutuhan. Dengan membantu mendesain bukaan ruangan yang tepat dengan tetap mengutamakan sirkulasi udara alami dan pencahayaan alami yang baik, dan juga mendesain furniture multifungsi ( meja dan rak penyimpanan) dapat menjadi solusi untuk permasalahan yang ada di RA Nurul Ilmi. dengan memberikan siolusi yang tepat diharapkan faktor higinitas , pencahayaan dan sirkulasi udara, serangga dan masuknya binatang pengerat tidak lagi menjadi permasalahan di RA nurul Ilmi. dengan tercapainya hal ini diharapkan dapat membantu kegiatan belajar mengajar menjadi lebih baik dan hasil dari pengabdian masyaratakat ini diharapkan tepat guna dan dapat memenuhi Sustainable Development Goals, khususnya dalam poin membantu menghasilkan Pendidikan yang berkualitas. Kegiatan dilmulai dengan melakukan diskusi perancangan bukaan yang akan diterapkan pada ruangan kelas RA nurul Ilmi, dengan berbekal pengukuran di lapangan dan diskusi material yang paling tepat yang dapat menyesuaikan keadaan lapangan. di lapangan bukaan jendela dengan bentangan yang cukup besar membuat alternatif pemilihan material lebih sedikit. Perancangan dimulai dengan menentukan elemen bangunan yang paling dibutuhkan dan mengolah data hasil pengukuran posisi tempat jendela tersebut, untuk kemudian dibuat simulasi 3D-nya. Posisi ditentukan dengan studi ruang eksisting dan aktivitas yang ada di kelas. Kegiatan belajar mengajar pada RA ini dibagi menjadi 2 sesi, sesi pagi dan sesi siang. Sehingga terdapat 2 kelompok siswa dengan kelas yang berbeda. Kondisi ini membuat aktivitas belajar yang berlangsung pada 2 kelas menumpuk pada 1 ruang kelas. Akan tetapi, karena alat permainan edukatif (APE) yang digunakan terbatas, contoh diantaranya adalahbuku, aneka bahan untuk prakarya, alat tulis, dan bahan permainan lainnya tidak memerlukan penambahan furnitur. Sedangkan kebutuhan pencahayaan dan sirkulasi udara, yang ditemukan memerlukan perhatian khusus, diputuskan menjadi permasalahan utama yang akan dijadikan fokus pada perancangan melalui penempatan dan desain jendela. Gambar 3.1 Simulasi 3D Desain Jendela Simulasi 3D dari Desain Jendela tergambar pada gambar 3.1 yang selanjutnya diaplikasikan pada area belakang kelas samping pintu masuk pada gambar 3.2. Penerapan desain ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas pencahayaan alami dan sirkulasi udara di ruang kelas tetapi dapat mencegah serangga atau binatang pengerat masuk ke ruangan, sehingga aktivitas belajar siswa menjadi lebih nyaman dan lancar. Dengan adanya jendela, ruang kelas tidak lagi terasa pengap dan sirkulasi pergerakan siswa tidak terhalang. Untuk ukuran, jendela dirancang dengan dimensi 4,55 m² dan 1,00 m², disesuaikan dengan kebutuhan pencahayaan serta kondisi ruang eksisting agar tetap harmonis dengan tata ruang kelas. Gambar 3.2 Simulasi 3D dalam ruangan kelas Material/bahan pada jendela ini menggunakan rangka hollow dengan finishing cat berwarna abu-abusehingga menjadikan ruangan tetap terlihat luas dan modern. Desain jendela dipadukan dengan elemeninterior lain seperti kursi yang memberikan kesan semangat dan ceria, serta kombinasi warna pada dinding yang menjaga ruangan tetap terlihat luas dan segar. Nuansa tersebut dinetralkan oleh warna coklat susu pada lantai untuk menjaga kehangatan ruang. Pengabdian Masyarakat ini selain memberikan perancangan melalui simulasi 3D, juga menghadirkan jendela dengan dimensi sesungguhnya sehingga dapat digunakan langsung oleh mitra dan memberikan pelayanan yang lebih baik terutama dalam kegiatan belajar mengajar. Ruang dengan fasilitas pencahayaan dan sirkulasi udara yang baik diharapkan dapat menghasilkan suasana ruang yang lebih nyaman dan kondusif. Gambar 3.3 Kegiatan Serah Terima Prototype Gambar 3.4 implementasi desain pada lantai ruang kelas Kegiatan serah terima dilaksanakan oleh TIM Abdimas pada tanggal 22 Desember 2025 kepada Kepala Sekolah. Kegiatan berlangsung dengan pemasangan jendela pada posisi yang telah ditentukan, serta kegiatan seremonial dengan memberikan plakat secara simbolis, sebagai tanda bahwa kegiatan Pengabdian Masyarakat telah selesai.
PERANCANGAN AREA BERMAIN UNTUK MENSTIMULASI PERKEMBANGAN HOLISTIC, KREATIVITAS DAN IMAJINASI DI POS PAUD AL-IKHLAS MANJAHLEGA-BANDUNG
TIM ABDIMAS Dosen : Aida Andrianawati, S.T., M.Sn Vika Haristianti, S.Ds., M.T Dr. Agustinus Nur Arief Hapsoro, S.T., M.T Mahasiswa: Metta Arly Vihari Wahyu Suherman Jesica Octavia Andhini DESKRIPSI KEGIATAN : Masa usia dini merupakan periode emas perkembangan anak yang memerlukan lingkungan belajar dan bermain yang aman, edukatif, serta mampu menstimulasi perkembangan holistik. Namun, kondisi sarana bermain di Pos PAUD Al-Ikhlas, Kota Bandung, masih belum memenuhi standar keamanan dan kebutuhan perkembangan anak. Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat ini bertujuan untuk merancang ulang area bermain outdoor sebagai media stimulasi motorik kasar, kreativitas, dan imajinasi anak usia dini. Metode yang digunakan bersifat partisipatif melalui observasi lapangan, wawancara, diskusi dengan guru dan pengelola sekolah, serta perancangan berbasis teori perkembangan anak menurut Piaget, Montessori, dan Vygotsky. Tahap implementasi meliputi redesain layout area bermain, perbaikan alat bermain eksisting, serta pembuatan prototype alat bermain jungkitan dan jembatan gantung skala 1:1 yang disesuaikan dengan prinsip ergonomi dan antropometri anak. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa area bermain outdoor yang dirancang ulang menjadi lebih aman, tertata, dan mendukung aktivitas bermain edukatif. Selain meningkatkan kualitas sarana prasarana sekolah, kegiatan ini juga memberikan pemahaman kepada guru mengenai pemanfaatan area bermain sebagai bagian dari proses pembelajaran. Program ini mendukung pencapaian SDGs 4 tentang pendidikan berkualitas dan berpotensi untuk dikembangkan secara berkelanjutan pada periode pengabdian berikutnya. Link Video: Klik di sini 1. Foto profil bangunan mitra abdimas 2. Foto usulan redesain area bermain outdoor 3. Foto proses produksi prototype di workshop 4, Foto hasil implementasi redesain 5. Foto acara serah terima berita acara pelaksanaan abdimas
MENGHIDUPKAN BANGUNAN KOLONIAL: DESAIN INTERIOR ADAPTIF BERBASIS BRANDING UNTUK KANTOR BARLAND SOUND SYSTEM
Di tengah pesatnya perkembangan industri kreatif, ruang kerja tidak lagi dipahami semata sebagai tempat bekerja, melainkan juga sebagai media komunikasi identitas dan citra sebuah brand. Desain interior kini berperan strategis dalam membentuk pengalaman ruang, memperkuat branding, serta mendukung pola kerja yang fleksibel dan kolaboratif. Tantangan ini semakin kompleks ketika ruang kerja berada di dalam bangunan heritage yang memiliki nilai sejarah tinggi dan keterbatasan fisik tertentu. Hal tersebut menjadi latar belakang kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (Abdimas) yang dilakukan oleh tim dosen dan mahasiswa Telkom University pada Kantor Barland Sound System & Equipment, sebuah UMKM penyedia perangkat dan layanan audio profesional yang berlokasi di bangunan kolonial Belanda di Jalan Aceh, Bandung. Bangunan bersejarah ini memiliki karakter arsitektural kuat, namun belum tertata secara optimal untuk menunjang aktivitas kerja modern dan representasi identitas merek perusahaan. Berdasarkan hasil observasi dan wawancara dengan pihak Barland, kondisi ruang kantor sebelumnya terasa padat, kurang fleksibel, serta belum mampu menampilkan karakter profesional dan kreatif perusahaan. Di sisi lain, struktur bangunan kolonial tidak memungkinkan perubahan fisik yang masif, sehingga dibutuhkan pendekatan desain yang adaptif tanpa merusak nilai historis bangunan. Menjawab tantangan tersebut, tim Abdimas Telkom University yang diketuai oleh Rexha Septine Faril Nanda, S.Ds., M.Ds., bersama Kiki Putri Amelia, S.Ds., M.Ds. dan Niken Laksitarini, S.Ds., M.Ds., serta melibatkan mahasiswa Desain Interior, mengusulkan solusi interior adaptif berbasis branding dengan penerapan furnitur modular dan analisis spasial berbasis Space Syntax. Pendekatan interior adaptif berbasis branding menempatkan ruang sebagai representasi nilai dan identitas Barland Sound System & Equipment. Elemen branding diwujudkan melalui pemilihan warna, material, grafis visual, serta penataan ruang yang mencerminkan karakter dinamis dan kreatif industri audio. Konsep ini dipadukan dengan prinsip adaptive reuse, yaitu memanfaatkan bangunan lama untuk fungsi baru tanpa menghilangkan keaslian arsitekturnya. Elemen heritage seperti dinding, bukaan, dan struktur asli bangunan kolonial tetap dipertahankan, sementara elemen interior modern dihadirkan secara ringan dan fleksibel. Salah satu strategi utamanya adalah penggunaan furnitur modular, seperti unit penyimpanan peralatan audio, meja kerja dengan storage terintegrasi, meja–bangku multifungsi, dan stool yang mudah dipindahkan. Furnitur ini memungkinkan ruang diatur ulang dengan cepat sesuai kebutuhan kerja, rapat, diskusi, hingga aktivitas komunitas musik. Keunikan dari kegiatan Abdimas ini terletak pada penerapan Visibility Graph Analysis (VGA) berbasis teori Space Syntax menggunakan perangkat lunak DepthmapX. Analisis ini digunakan untuk memetakan tingkat keterlihatan ruang dan menentukan area paling strategis untuk penempatan elemen branding. Hasil analisis menunjukkan bahwa area penerimaan dan jalur sirkulasi utama memiliki tingkat visibilitas tertinggi, sehingga dimanfaatkan sebagai titik utama penempatan logo, mural identitas, dan display portofolio Barland. Sementara itu, area kerja dan penyimpanan ditempatkan pada zona dengan visibilitas lebih rendah untuk menjaga privasi dan efisiensi kerja. Pendekatan berbasis data ini membantu menciptakan pengalaman visual yang konsisten dan kuat bagi pengunjung maupun pengguna ruang. Hasil perancangan berupa layout interior, tata letak furnitur modular, gambar potongan ruang, visualisasi 3D, serta peta analisis visibilitas ruang telah diserahkan secara resmi kepada mitra. Desain yang dihasilkan mampu mengintegrasikan nilai heritage bangunan kolonial dengan kebutuhan ruang kerja kontemporer secara harmonis. Umpan balik dari pihak Barland Sound System & Equipment menunjukkan tingkat kepuasan yang sangat tinggi, dengan total kepuasan mencapai 95 persen. Mitra menilai bahwa desain yang dihasilkan tidak hanya fungsional dan estetis, tetapi juga sangat membantu dalam memperkuat identitas merek dan mendukung fleksibilitas operasional. Kegiatan pengabdian ini diharapkan dapat menjadi contoh penerapan desain interior adaptif berbasis branding pada bangunan bersejarah, khususnya bagi UMKM di sektor industri kreatif. Selain mendukung pelestarian bangunan heritage, pendekatan ini juga mendorong inovasi desain yang berkelanjutan dan berbasis analisis spasial. Ke depan, kolaborasi antara Telkom University dan Barland Sound System & Equipment diharapkan dapat berlanjut hingga tahap implementasi fisik desain, sekaligus membuka peluang pengembangan model desain serupa bagi UMKM lain yang memanfaatkan bangunan bersejarah sebagai ruang kreatif. https://youtu.be/SzMT-dDbFqY TIM PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT KETUA TIMREXHA SEPTINE FARIL NANDA, S.DS., M.DS. (NIP: 23960022) ANGGOTA DOSENKIKI PUTRI AMELIA (NIP: 23910012) NIKEN LAKSITARINI (NIP: 24800003) ANGGOTA MAHASISWANTIA AULIA (NIM: 106032300155) ALVAN SYARIF (NIM: 106032300147) DEFFANY RAMEYZA PUTRI (NIM: 106032430017)
Recent Comments