Diseminasi Kreatif “Tur Salah Jalan”: Artist Talk dan Diskusi Publik tentang Narasi Alternatif di Situs Benteng Rotterdam Makassar

Diseminasi Kreatif “Tur Salah Jalan”: Artist Talk dan Diskusi Publik tentang Narasi Alternatif di Situs Benteng Rotterdam Makassar

Kegiatan pengabdian masyarakat ini berfokus pada komunitas SIKU Ruang Terpadu Makassar, sebuah ekosistem kreatif yang sejak 2019 aktif mengembangkan program seni, budaya, dan pendidikan berbasis komunitas. SIKU berperan penting sebagai wadah kolaborasi antara seniman, desainer, peneliti sejarah, musisi, dan pegiat sosial yang memiliki perhatian terhadap isu warisan budaya dan dinamika urban Makassar. Walaupun SIKU telah menyelenggarakan berbagai kegiatan untuk mengangkat isu-isu lokal dan sejarah lokal, SIKU menghadapi tantangan dalam mengkases medium baru untuk pelestarian pengetahuan dan penyebaran narasi sejarah.  Sebagian besar kegiatan mereka masih berbasis ruang fisik dan mengandalkan partisipasi langsung, sementara potensi pemanfaatan media digital dan teknologi interaktif masih terbatas. Akibatnya, praktik penceritaan sejarah dan dokumentasi budaya sering kali terfragmentasi, tidak terdigitalisasi, dan sulit menjangkau audiens yang lebih luas, seperti pada studi kasus Benteng Rotterdam.

Benteng Rotterdam yang menjadi situs sejarah kolonial di Makassar memiliki narasi yang bersifat op-down—berpusat pada sejarah kolonial Belanda dan institusi formal—tanpa menampilkan kisah masyarakat lokal, ritual, atau memori sosial yang juga membentuk identitas kawasan tersebut. Ketimpangan representasi ini menunjukkan adanya “kesenyapan naratif” di mana suara masyarakat dan pengetahuan lokal tidak terakomodasi dalam sistem kuratorial yang dominan. Oleh karena itu diperlukan ruang dialog dan diseminasi pengetahuan yang dapat mempertemukan perspektif akademis, artistik, dan lokal, salah satunya melalui kegiatan Diseminasi Kreatif Tur Salah Jalan. Program ini diharapkan membangun kesadaran dan kapasitas reflektif masyarakat terhadap isu dekolonialisasi dalam pelestarian budaya.

Program ini berupa artist talk, diskusi publikasi, dan bantuan teknologi digital Artificial Intelligence (AI) atau chatbot untuk mewadahi pertukaran pengalaman antara berbagai narasumber-user serta menghidupkan narasi budaya yang lebih interaktif, sekaligus memperluas akses publik terhadap warisan sejarah. Hasil utama kegiatan ini terlihat dari: (1) meningkatnya pemahaman peserta terhadap konsep narasi dekolonial dan pentingnya keterlibatan masyarakat dalam penceritaan warisan budaya, (2) keterlibatan partisipatif yang tinggi, (3) menghasilkan dokumentasi berupa video, foto, serta catatan reflektif hasil diskusi untuk dijadikan arsip digital kegiatan dan bahan diseminasi terbuka.

Melalui kegiatan pengabdian masyarakat ini, diseminasi artistik dapat memperkuat peran komunitas dalam membangun narasi alternatif tentang Benteng Rotterdam, mengaktifkan memori kolektif masyarakat, serta membuka peluang kolaborasi lintas disiplin untuk pelestarian budaya yang lebih inklusif dan partisipatif.

Ketua Tim :

Dea Aulia Widyaevan (Nip: 15870063)

 

Anggota :

Arnanti Primiana Yuniati (Nip: 19930020)
Iqbal Prabawa Wiguna (Nip: 17840106)

 

Anggota Mahasiswa :

Muhammad Alfaruq Habiburrahman (Nim: 1603191230)
Rania Ramadhani Aisyah (Nim: 102012300058)
Gracia Aprilliani (Nim: 106042300027)
Abi Nugraha (Nim: 1603210223)