Tim Pengabdian Masyarakat Telkom University Dampingi Perancangan Ulang Interior Dinas Kesehatan Kabupaten Bandung
Tim Pengabdian kepada Masyarakat dari Desain Interior Universitas Telkom melaksanakan kegiatan pendampingan perancangan ulang interior di Dinas Kesehatan Kabupaten Bandung sebagai upaya mendukung peningkatan kualitas ruang kerja dan pelayanan publik. Kegiatan ini diawali dengan pertemuan bersama mitra untuk mendiskusikan kebutuhan fasilitas yang belum terpenuhi serta arah pengembangan ruang yang diharapkan. Gambar Tim pengabdian masyarakat berdiskusi bersama Dinas Kesehatan Kebutuhan perancangan ulang pada Dinas Kesehatan ini meliputi ruang pimpinan, ruang kerja pegawai, ruang pelayanan, ruang rapat, serta ruang penunjang seperti toilet, mushola, gudang, dan ruang laktasi. Sebagai tindak lanjut, tim melakukan survei dan pengukuran bangunan secara menyeluruh dengan pendampingan dari pihak mitra. Kegiatan ini bertujuan untuk memperoleh data kondisi eksisting serta dapat mengidentifikasi permasalahan ruang seperti sirkulasi yang kurang optimal, keterbatasan area kerja, serta minimnya fasilitas penyimpanan. Data hasil survei kemudian diolah sebagai dasar penyusunan alternatif tata letak dan konsep perancangan. Gambar Hasil 3D Modeling Ruang Kantor Dinas Kesehatan Konsep perancangan mengusung tema sustainable design dan penguatan corporate identity agar desain interior mampu merepresentasikan identitas institusi sekaligus menciptakan lingkungan kerja yang nyaman. Konsep ini terlihat pada motif yang merepresentasikan Kabupaten Bandung. Selain itu pemanfaatan pencahayaan alami sebagai upaya dalam penghematan energi. Adapun penggunaan tumbuhan indoor yang dipakai sebagai pengaturan kelembaban ruang dan penyaring udara alami yang baik. Gambar Kegiatan Presentasi Desain Dinas Kesehatan Hasil perancangan yang telah disusun selanjutnya dipresentasikan kepada pihak Dinas Kesehatan Kabupaten Bandung dan dilanjutkan dengan proses serah terima. Pada tanggal 24 Desember 2025, tim Pengabdian Masyarakat memaparkan hasil akhir perancangan dan menerima tanggapan serta masukan dari mitra sebagai bagian dari penyempurnaan desain yang diharapkan dapat mendukung terciptanya lingkungan kerja dan pelayanan yang lebih baik. Ketua Tim IRWAN SUDARISMAN (NIP: 14820073) Anggota Tim RAISYA RAHMANIAR HIDAYAT (NIP: 25950002) HANA FAZA SURYA RUSYDA (NIP: 22950026) Anggota Mahasiswa NAZWA FEBIADITA RIYADI (NIM: 106032400003) AISHA HUMAYRA (NIM: 106032300102) RAISA ASNIA DIWANIE (NIM: 106032400013) PETIR ANGGARA PUTRA TRI WIBOWO (NIM: 106032330176) ALDI FIKRI (NIM: 106032300163)
Perancangan Area Bermain Indoor Berbasis Konsep Montessori sebagai Sarana Pembelajaran Holistik Anak Usia Dini di PAUD Al-Hijrah, Cimahi
Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) merupakan fondasi penting dalam membentuk perkembangan kognitif, sosial, emosional, motorik, serta karakter anak. Pada rentang usia 0–6 tahun, anak berada pada masa emas perkembangan, sehingga membutuhkan lingkungan belajar yang mampu memberikan stimulasi optimal. PAUD Al-Hijrah Cimahi sebagai lembaga pendidikan formal berbasis Islam menghadapi tantangan dengan bertambahnya jumlah siswa pada tahun ajaran 2025–2026. Kondisi ini menimbulkan kebutuhan penambahan ruang kelas sekaligus prasarana pendukung lain, salah satunya area bermain. Area bermain luar ruangan dan perpustakaan yang dimiliki saat ini tidak cukup menampung aktivitas siswa, sehingga fungsi bermain sebagai sarana pembelajaran holistik belum berjalan optimal. Gambar 1 Peoses Diskusi Tim ABDIMAS dan Serah Terima dengan Mitra Sasar Dari hasil diskusi, kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat ini menawarkan solusi melalui perancangan area bermain indoor berbasis konsep Montessori. Montessori menekankan pentingnya prepared environment, yaitu lingkungan belajar yang memungkinkan anak bereksplorasi, mandiri, dan berkembang sesuai tahapannya. Metode yang digunakan mengacu pada pendekatan design thinking dengan melibatkan mitra secara aktif pada setiap tahap. Hasil kegiatan yang direncanakan akan berupa rancangan desain interior area bermain indoor lengkap dengan prototipe berbasis Montessori yang menekankan zoning aktivitas, pemilihan perabot ramah anak, serta tata ruang yang aman, nyaman, dan edukatif. Luaran tambahan meliputi jurnal pengabdian masyarakat, video kegiatan, dan artikel media internal. Program ini diharapkan mampu meningkatkan kualitas pembelajaran holistik di PAUD Al-Hijrah sehingga siswa dapat melakukan kegiatan dengan lebih optimal. Gambar 2 Desain Area Bermain Indoor yang Dihasilkan Gambar 3 Fitting Desain dan Implementasi Desain di PAUD Al-Hijrah Masyarakat sasar merasa sangat setuju jika kegiatan pengabdian Masyarakat ini berdampak positif pada perkembangan kemajuan TKA Al-Hijrah, seluruh guru/ staff pengajar merasa sangat puas terhadap penyelenggaraan kegiatan pengabdian Masyarakat di TKA Al-Hijrah dan berharap kegiatan ini akan berlanjut. Tim Pengabdian Kepada Masyarakat Vika Haristianti, S.Ds., M.T Fajarsani Retno Palupi, S.Sn., M.Ds. Aida Andrianawati, S.T.,M.Sn. Anggota Mahasiswa M Gavin Rajwa Quranridho (NIM: 106032400001) Muhammad Ghany Bumi Persada (NIM: 106032400094) Muhayya Azwa Monchot Lubis (NIM: 106032430006)
PERANCANGAN KERAN & INTEGRASI TEKNOLOGI PADA AREA WUDHU DAARUT TAUHIID
Wudhu Hemat Air di Daarut Tauhiid: Teknologi yang Taat Syariat Di tengah meningkatnya kekhawatiran akan krisis air bersih, satu aktivitas harian umat Muslim sering luput dari perhatian, yaitu wudhu. Padahal, di negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia seperti Indonesia, penggunaan air untuk bersuci terjadi jutaan kali setiap hari, terutama di masjid, pesantren, dan institusi keagamaan. Jika tidak dikelola dengan bijak, praktik ini berpotensi menjadi sumber pemborosan air yang signifikan. Ironisnya, pemborosan air saat wudhu justru bertentangan dengan nilai Islam itu sendiri. Rasulullah SAW telah mencontohkan wudhu dengan air yang sangat terbatas, bahkan ketika berada di dekat sumber air yang melimpah. Artinya, persoalan wudhu hemat air bukan sekedar isu teknis, melainkan juga persoalan etika dan konsistensi nilai. Berbagai studi menunjukkan bahwa tingginya konsumsi air wudhu bukan semata-mata disebabkan oleh perilaku jamaah. Faktor desain fasilitas, khususnya keran wudhu, memegang peran besar. Keran konvensional umumnya membiarkan air mengalir terus-menerus tanpa kontrol debit yang jelas, kurang ergonomis, dan sering kali tidak inklusif bagi kelompok tertentu, seperti lansia atau penyandang disabilitas. Akibatnya, air terbuang bahkan sebelum digunakan secara optimal. Persoalan inilah yang menjadi perhatian Yayasan Daarut Tauhiid (DT) di Bandung. Sebagai institusi yang sejak lama mengusung konsep eco green, DT memandang kepedulian lingkungan bukan sebagai agenda tambahan, melainkan sebagai bagian dari praktif ibadah sehari-hari. Area wudhu Masjid Daarut Tauhid, dengan jumlah jamaahnya yang sangat tinggi, kemudian dijakdikan sebagai lokasi pilihan unduk kegiatan kolaborasi inovatif antara nilai syariat Islam, desain, dan teknologi. Melalui program pengabdian masyarakat, Telkom University bekerja sama dengan startup Karla Bionics untuk merancang solusi wudhu hemat air yang tidak hanya efisien, tetapi juga taat syariat dan realistis untuk diterapkan di masjid. Karla Bionics sebelumnya telah mengembangkan Lubna Watertap, sebuah keran hemat air yang dalam uji coba awal mampu mengurangi penggunaan air hingga sekitar 56 persen. Namun, prototipe tersebut masih perlu dikembangkan lebih jauh. Gambar 1. Prototipe Lubna Watertap oleh Karla Bionics, Dokumentasi Penulis 2025 Evaluasi lapangan di Masjid Daarut Tauhiid mengungkap masalah yang kerap terjadi. Mulai dari keran yang tidak ramah pengguna, sistem kontrol air yang masih primitive, serta bagian bawah keran yang cepat rusak dan harus diganti secara keseluruhan. Biaya perawatan pun membengkak, sementara pemborosan air terus berlangsung. Berangkat dari kondisi tersebut, tim Telkom University mengusung pendekatan desain yang tidak hanya menawarkan teknologi canggih, tetapi desain keran yang disusun berdasarkan pengamatan perilaku jamaah, pola gerak tubuh saat wudhu, serta pengamatan perilaku jamaah. Hasilnya adalah tiga alternatif desain keran hemat air yang masing-masing menawarkan keunggulan berbeda. Gambar 2. Desain Keran Uplift Eco Water Tap, Dokumentasi Penulis 2025 Desain pertama, Uplift Eco Water Tap, memodifikasi keran eksisting dengan sistem uplift (tekan dari bawah) yang membuat air mengalir hanya dalam durasi singkat sebelum berhenti otomatis, tanpa memerlukan listrik. Teknik menekan dari bawah akan mempermudah proses berwudhu, yang disesuaikan dengan gerakan berwudhu (mengambil air dari bawah dan mengusapkan ke anggota tubuh). Gambar 3. Desain Keran Extendable Eco Water Tap, Dokumentasi Penulis 2025 Desain kedua, Extendable Eco Water Tap, mengintegrasikan sensor dan selang fleksibel untuk kontrol air yang lebih presisi, meski dinilai masih terlalu kompleks dan mahal untuk implementasi awal. Gambar 4. Desain Keran modifikasi Lubna Watertap, Dokumentasi Penulis 2025 Desain ketiga memodifikasi Lubna Watertap agar tampil lebih familiar, menyerupai keran dispenser yang sudah dikenal luas, dengan pengaturan debit air yang lebih merata dan hemat. Ketiga desain ini kemudian diwujudkan dalam mockup skala penuh menggunakan teknologi cetak 3D dan dipresentasikan secara terbuka dalam sesi pemaparan program pengabdian masyarakat Telkom University. Forum ini dihadiri oleh pimpinan Yayasan Daarut Tauhiid, pengurus masjid, serta pihak Karla Bionics. Sesi tersebut menjadi ruang penting untuk pengambilan umpan balik langsung dari para pemangku kepentingan. Gambar 5. Kegiatan Pemaparan dan Serah Terima, Dokumentasi Penulis 2025 Masukan yang muncul sangat kontekstual dan membumi. Pihak Daarut Tauhiid menekankan pentingnya desain yang sederhana, intuitif, dan memiliki komponen modular, khususnya pada bagian bawah keran, agar perawatan lebih efisien dan tidak membebani anggaran masjid. Jamaah yang datang dari berbagai latar belakang juga menuntut desain yang mudah dipahami tanpa perlu instruksi khusus. Sementara itu, Karla Bionics menyoroti perlunya uji langsung pada pengguna untuk memastikan kenyamanan tetap terjaga. Sebagai tindak lanjut dari pengembangan keran hemat air, kegiatan ini juga merekomendasikan penerapan Smart Wudhu (Ablution) Space Ecosystem sebagai arah pengembangan jangka panjang. Melalui intervensi desain water-saving taps, penataan posisi dan ketinggian keran berbasis ergonomi, serta pemanfaatan gesture atau proximity sensor untuk mengontrol aliran air, penggunaan air dapat ditekan tanpa mengganggu kekhusyukan ibadah. Integrasi sistem pintar memungkinkan pemantauan konsumsi air secara real-time, sementara simulasi lingkungan (ecotect simulation) digunakan untuk mengoptimalkan tata letak ruang, pencahayaan, dan sirkulasi udara. Menariknya, konsep smart dalam ekosistem ini tidak selalu identik dengan teknologi mahal. Sistem dirancang agar bersifat modular, bertahap, dan kontekstual. Dengan pendekatan ini, Smart Wudhu Ecosystem diharapkan menjadi solusi yang budget friendly, berbiaya perawatan rendah, dan menghasilkan water fixture yang tahan lama. Secara prinsip, inisiatif ini sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya SDG 6 (air bersih dan sanitasi), SDG 9 (inovasi dan infrastruktur), dan SDG 11 (kota dan komunitas berkelanjutan), serta mendukung standar Green Building Council Indonesia (GBCI), terutama pada aspek Water Conservation (WAC) dan Energy Efficiency and Conservation (EEC). Respons jamaah terhadap program ini pun positif. Berdasarkan kuesioner, seluruh responden menyatakan bahwa program ini sesuai dengan kebutuhan mereka dan layak dilanjutkan. Lebih dari sekadar inovasi teknis, program ini membuka ruang refleksi bahwa keberlanjutan lingkungan dapat dimulai dari praktik ibadah paling dasar. Dari Bandung, inisiatif wudhu hemat air di Daarut Tauhiid memberi pesan penting bagi publik: kepedulian terhadap lingkungan tidak selalu menuntut perubahan besar dan mahal. Ia bisa dimulai dari hal sederhana. Mulai dari cara kita membuka keran, dan cara kita memaknai ibadah. Ketika spiritualitas dan tanggung jawab ekologis berjalan beriringan, maka wudhu bukan hanya menyucikan diri, tetapi juga menjaga bumi. https://youtu.be/x2HOae5dUe0?si=u7urG-lJG5mhQ567%20 Ketua Tim : Athifa Sri Ismiranti, S.Ds., M.Arch. (NIP: 22940036) Anggota Dosen : Akhmadi, S.T., M.Ds. (NIP: 22930022) Raisya Rahmaniar Hidayat, S.Sn, M.Arch. (NIP: 25950002) Anggota Mahasiswa : Ahmad Khairul Fatah Musyaffa (NIM: 1603223078) Yaasmin Amanda (NIM: 1603223094) Anandira Putra Darmawan (NIM: 1603223197)
FURNITURE MULTIFUNGSI: PERANCANGAN FURNITURE FASILITAS AJAR ANAK USIA DINI DENGAN PENDEKATAN PARTISIPATORI PADA YAYASAN MIFTAHUL ‘ULUUM
Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) merupakan tahap penting dalam membentuk kemampuan kognitif, sosial, emosional, dan motorik anak. Pada fase ini, anak belajar melalui eksplorasi dan pengalaman langsung, sehingga ruang belajar dan fasilitas pendukungnya perlu dirancang secara aman, nyaman, dan stimulatif. Namun demikian, masih banyak lembaga PAUD di Indonesia yang memiliki keterbatasan sarana dan prasarana, khususnya furnitur yang belum dirancang sesuai dengan karakteristik dan kebutuhan anak usia dini. Kondisi ini berdampak pada kurang optimalnya proses pembelajaran yang seharusnya berlangsung dalam suasana menyenangkan dan mendukung tumbuh kembang anak. Permasalahan tersebut menjadi dasar dilaksanakannya kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat yaitu Perancangan Furniture Multifungsi sebagai Fasilitas Ajar Anak Usia Dini dengan Pendekatan Partisipatori pada Yayasan Miftahul ‘Uluum. Kegiatan ini berfokus pada perancangan furnitur aplikatif dan multifungsi untuk mendukung aktivitas belajar mengajar di Raudhatul Athfal (RA) Miftahul ‘Uluum yang berlokasi di Cisaranten Kulon, Kota Bandung. Dengan menggunakan metode kualitatif, yaitu observasi lapangan, wawancara, serta diskusi partisipatif, tim pengabdian masyarakat Telkom University yang terdiri dari Kiki Putri Amelia, Widyanesti Liritantri, dan Rexha Septine Faril Nanda, bersama mahasiswa, mengusulkan solusi berupa perancangan furnitur multifungsi berbasis pendekatan partisipatoris. Solusi ini dirancang untuk menjawab keterbatasan ruang kelas PAUD agar tetap fungsional, ergonomis, aman, serta sesuai dengan karakteristik dan kebutuhan anak usia dini di Yayasan Miftahul ‘Uluum. Pendekatan partisipatoris diterapkan dengan melibatkan mitra secara langsung dalam seluruh tahapan perancangan, mulai dari penggalian kebutuhan, penyusunan konsep desain, hingga evaluasi hasil rancangan. Melalui pendekatan ini, pengguna tidak hanya menjadi objek, tetapi juga subjek dalam proses desain, sehingga hasil perancangan diharapkan lebih tepat guna dan aplikatif. Dalam perancangannya, furnitur yang diusulkan mengintegrasikan beberapa fungsi dalam satu elemen, seperti area pajang karya siswa, panel aktivitas kreatif, serta rak penyimpanan barang pribadi anak. Furnitur dirancang dengan mempertimbangkan aspek ergonomi anak usia dini, keamanan material, kemudahan perawatan, serta fleksibilitas penggunaan. Pemilihan warna cerah digunakan sebagai elemen visual yang mampu menciptakan suasana belajar yang menyenangkan tanpa memberikan distraksi berlebih terhadap kegiatan belajar mengajar. Proses kegiatan pengabdian masyarakat ini dilaksanakan pada Senin, 29 Desember 2025, bertempat di ruang kelas RA Miftahul ‘Uluum. Rangkaian kegiatan meliputi observasi lanjutan, pemaparan hasil desain, diskusi dan evaluasi bersama mitra, serta implementasi desain dalam bentuk furnitur skala 1:1 yang kemudian diserahterimakan kepada pihak yayasan. Tahapan ini menjadi bagian penting untuk memastikan bahwa hasil perancangan dapat langsung dimanfaatkan dalam kegiatan belajar mengajar sehari-hari. Kegiatan pengabdian masyarakat ini tidak hanya menghasilkan produk furnitur fisik, tetapi juga memberikan transfer pengetahuan kepada pengelola yayasan dan guru terkait pemanfaatan, penataan, serta pemeliharaan furnitur agar dapat digunakan secara berkelanjutan. Selain itu, hasil kegiatan ini berpotensi menjadi model pengembangan furnitur ajar bagi lembaga PAUD lain dengan karakteristik ruang dan kebutuhan serupa. Menurut hasil umpan balik dari pihak Yayasan Miftahul ‘Uluum, kegiatan ini dinilai sangat relevan dengan kebutuhan mitra. Mitra mengapresiasi pendekatan partisipatoris yang diterapkan oleh tim abdimas karena mampu menghasilkan furnitur yang fungsional, aman, dan sesuai dengan kebutuhan pembelajaran anak usia dini. Mitra juga berharap kolaborasi serupa dapat terus berlanjut pada periode pengabdian masyarakat berikutnya. Melalui kegiatan ini, tim Pengabdian kepada Masyarakat Telkom University berharap dapat berkontribusi dalam meningkatkan kualitas lingkungan belajar anak usia dini serta mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) poin 4, yaitu Pendidikan Berkualitas, melalui penyediaan sarana dan prasarana pembelajaran yang layak dan inklusif. Ketua Tim: Kiki Putri Amelia (NIP: 23910012) Anggota Dosen: Widyanesti Liritantri (NIP: 23790005) Rexha Septine Faril Nanda (NIP: 23960022) Anggota Mahasiswa N. Azmil Kamalt (NIM: 1603223127) Luthfan Haikal Abdillah (NIM: 1603223172) Hasna Kirana Thufailah Jayasaputra (NIM: 1603223157) Favya Naufa Riani (NIM: 1603223179)
FURNITURE SIMPAN SEBAGAI SOLUSI PENINGKATAN PELAYANAN ADMINISTRASI POSYANDU BUNCIS, ARCAMANIK, BANDUNG
Posyandu sebagai fasilitas kesehatan berbasis masyarakat memegang peran penting dalam pencatatan dan pemantauan tumbuh kembang bayi, balita, ibu hamil, hingga lansia. Keberhasilan pelayanan Posyandu tidak hanya ditentukan oleh tenaga kesehatan dan kader, tetapi juga sangat bergantung pada ketersediaan sarana pendukung, khususnya fasilitas penyimpanan dokumen administrasi. Permasalahan inilah yang menjadi perhatian Tim Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Telkom University dalam kegiatan pendampingan desain furniture simpan di Posyandu BUNCIS, Kelurahan Cisaranten Bina Harapan, Kecamatan Arcamanik, Kota Bandung. Posyandu BUNCIS secara rutin melaksanakan kegiatan pelayanan kesehatan sebulan sekali bekerja sama dengan Puskesmas setempat. Namun, hasil observasi lapangan menunjukkan bahwa fasilitas penyimpanan dokumen masih sangat terbatas dan bersifat seadanya. Dokumen penting masyarakat disimpan dalam lemari terbuka hasil sumbangan warga, tanpa sistem pengamanan dan pengelompokan yang memadai. Kondisi ruang yang lembap juga menyebabkan penurunan kualitas material lemari kayu, sehingga berpotensi merusak arsip administrasi Posyandu. Melalui diskusi dengan kader dan Ketua Posyandu, Tim PKM Telkom University yang terdiri dari Fajarsani Retno Palupi, Rexha Septine Faril Nanda, dan Titihan Sarihati dari Program Studi Desain Interior, merumuskan solusi desain berupa fasilitas furniture simpan yang lebih aman, ergonomis, dan sesuai dengan karakter aktivitas Posyandu. Pendekatan ini menempatkan kebutuhan pengguna sebagai dasar perancangan, sekaligus mempertimbangkan keterbatasan ruang dan multifungsi bangunan Posyandu yang juga kerap digunakan untuk rapat warga dan kegiatan pemilu. Dalam kegiatan PKM ini, metode yang digunakan meliputi survei lapangan, penggalian data kebutuhan pengguna, proses perancangan desain, hingga evaluasi. Tim PKM mengusulkan desain lemari dokumen tertutup berbahan logam dengan bidang kaca transparan pada pintu. Pemilihan material logam dilakukan untuk menjawab permasalahan kelembapan ruang, daya tahan terhadap beban dokumen, serta kemudahan perawatan jangka panjang. Sementara itu, penggunaan kaca memungkinkan kader Posyandu melihat susunan dokumen tanpa harus membuka lemari, sehingga proses kerja menjadi lebih efisien. Desain furniture simpan ini dirancang untuk menampung dokumen dengan ukuran beragam, mulai dari kertas letter hingga legal, dengan sistem penyusunan berjajar menyamping. Tinggi lemari disesuaikan dengan jangkauan ergonomis pengguna, sehingga dokumen tetap mudah diakses tanpa menimbulkan risiko cedera. Prinsip ergonomi dan antropometri menjadi pertimbangan utama agar aktivitas mengambil dan mengembalikan dokumen dapat dilakukan dengan nyaman dan aman oleh kader Posyandu. Selain merancang furniture simpan, Tim PKM juga mengusulkan penataan ulang layout ruang Posyandu. Area penyimpanan ditempatkan di bagian dalam ruang, dekat dengan area konsultasi, namun tetap terlindungi dari akses pengunjung umum. Penataan ini bertujuan untuk menjaga keamanan dokumen, memperlancar sirkulasi ruang, serta menciptakan tampilan ruang Posyandu yang lebih rapi dan tertata. Melalui implementasi desain ini, proses administrasi Posyandu diharapkan menjadi lebih terorganisir, efektif, dan efisien. Dokumen perkembangan kesehatan masyarakat dapat tersimpan dengan baik, mudah diakses saat dibutuhkan, dan terlindungi dari kerusakan. Dampak tidak langsungnya adalah peningkatan kualitas pelayanan kesehatan, karena kader dapat bekerja lebih fokus dan cepat dalam melayani masyarakat. Kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat ini mendapat respons positif dari pihak Posyandu BUNCIS. Kader Posyandu menilai bahwa solusi desain yang ditawarkan sangat relevan dengan kebutuhan lapangan dan dapat meningkatkan profesionalisme pengelolaan administrasi. Ke depan, program ini diharapkan dapat menjadi contoh kolaborasi antara perguruan tinggi dan masyarakat dalam meningkatkan kualitas fasilitas pelayanan kesehatan berbasis desain interior yang fungsional dan berkelanjutan. Dengan dukungan desain furniture simpan yang tepat guna, Posyandu tidak hanya berfungsi sebagai pusat layanan kesehatan, tetapi juga sebagai ruang komunitas yang tertata, aman, dan nyaman bagi seluruh lapisan masyarakat. Ketua TimFAJARSANI RETNO PALUPI (NIP: 14870002) Anggota TimREXHA SEPTINE FARIL NANDA (NIP: 23960022)TITIHAN SARIHATI (NIP: 15730015) Anggota MahasiswaARIF NUGROHO (NIM: 1603223090)LUTHFAN HAIKAL ABDILLAH (NIM: 1603223172)
Recent Comments